Apakah tabir atau
hijab menghalang untuk melihat Allah?
Allah swt itu tidak ada hijab, dinding, tembok dan tidak ada
tabir untuk kita melihatNya. Allah swt boleh dikenali, diketahui, dilihat dan
dipandang oleh sekalian makhlukNya tanpa ada apa-apa yang boleh menutup dan
tanpa ada apa-apa yang boleh menghalang diriNya dari dilihat oleh sekalian
kita. Yang menjadi penghalang dan tabir hijab dari diriNya dilihat adalah akal
kita sendiri. Akal kitalah yang menjadi diniding pemisah antara kita dengan
Allah swt.
Akal diri kita inilah sebenarnya yang menjadi tabir pemisah
dan yang menjadi hijab penghalang dari memandang Allah swt. Diantara diri kita
dengan Allah swt itu sebenarnya tiada jarak pemisah dan tiada tembok penghadang
dari kita memandangNya.
Firman Allah swt bermaksud :
“Dan sungguh Kami
telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.
Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”.- Al Qaff : 16
Yang menghijab, menghalang dan yang menjadi tabir pemisah
dari kita memandang Allah swt itu adalah diri kita sendiri. Cara untuk
menghilangkan dan membuang hijab itu adalah melalui mengembalikan semua yang
ada pada diri kita kepada Allah swt. Bila tiada satu pun keAKUan dari diri
kita, Allah swt akan membuka hijab tersebut.
Dengan cara mengembalikan dan menyerahkannya kembali segala
nafsu tersebut kepada Allah, membuatkan hijab diri kita akan kembali terbuka.
Setelah hijab terbuka, hati kita akan menjadi fakir, hina, binasa, hilang,
lenyap dan lebur. Setelah sifat diri lebur dan dipulangkannya kepada
Pemilik-Nya maka distulah nantinya akan terlihat , terpandang dan terzahir
wajah Allah swt melalui sifat anggota zahir dan anggota batin kita.
Setelah hijab nafsu diri dipulangkan kembali kepada Allah
swt dengan sendirinya diri kita akan diisi dengan sifat terpuji yang melahirkan
hati yang tidak sombong, tidak dengki, tidak khianat atau tidak bersifat
angkuh. Setelah semua sifat mazmumah kembali kosong dan binasa, kekosongan itu
pula nantinya akan diisi dengan wajah Allah yang bersifat mahmudah.
Setelah kita berjaya membawa diri melewati sempadan hijan,
isi alam ini akan lebur dan tenggelam dalam wajah Allah. Setelah wajah makhluk
menjadi binasa disitulah nantinya wajah Allah swt mengambil tempat mengisi hati
kita. Selagi kita masih terpandang wajah makhluk dan wajah diri kita, sudah
pasti wajah Allah swt tidak dapat kita lihat. Setelah wajah diri kita dan wajah
makhluk alam keseluruhannya telah dibuang, terpadam dan sudah tidak kelihatan
pastinya dengan jelas wajah Allah swt akan dapat dilihat dengan
sejelas-jelasnya.
Tahap inilah yang dinanti-nantikan dan yang ditunggu-tunggu
oleh sekalian makhluk. Tahap inilah tahap penghujung sekalian pelajaran ilmu
mengenal Allah swt dan tahap pemulaan pelajaran ilmu makrifat kepada Allah swt.
Ilmu mengenal Allah swt itu akan terhasil apabila segala-galanya telah binasa.
Apabila binasa segala yang dipandang, didengar, diucap, dizahir dan dibatin,
maka distulah Allah swt akan dapat kita lihat dan kenal.
Firman Allah swt bermaksud :
“Begitu pula dengan
diri mu sendiri. Apa tidakkah kamu memperhatikannya?”- Az Zariyat : 21
"Dia bersama kamu di mana sahaja kamu
berada" - Al-Hadid :4
Bayangan wajah Allah
pada sifat alam telah lebih dari cukup untuk dijadikan sandaran bagi memandang,
melihat dan mengenalNya. Wajah Allah swt itu tidak boleh dipapar, ditonjol atau
diterjemahkan dalam bentuk ukiran patung, gambar atau tulisan sebagaimana agama
lain. Dari penzahiran bayang atau bekas-bekas wajahNya keatas makhlukNya, sudah
memadai bagi kita untuk melihat wajah Allah swt. Dalil Allah swt pada kejadian
setiap makhlukNya sudah cukup kuat dan cukup terang untuk ditafsirkan dan
diterjemahkan. Sebagaimana kita mentafsirkan senyuman yang terukir pada wajah
seseorang walaupun tanpa dizahirkan dalam bentuk perkataan.
------------------------------------------------------------------------------
HTML Comment Box is loading comments...





